Kantor PRIMKOPTI Jakarta Selatan

Kantor Primkopti Jakarta Selatan yang terletak di Jalan Kalibata Tengah No.8-9 Jakarta Selatan. Primkopti Jaksel merupakan badan hukum resmi bernomor 1305/BH/I Tgl 06-9-1979

Mengembangkan kemandirian usaha koperasi

Primkopti Jakarta Selatan mengembangkan usaha dengan melakukan terobosan-terobosan dinamis tanpa kehilangan wataknya sebagai koperasi, dimana pelayanan kepada anggota menjadi prioritasnya.

Siap memberikan hak suara

Seorang anggota PRIMKOPTI Jakarta Selatan memberikan hak suaranya dalam proses reformasi kepengurusan yang berlangsung secara maraton di beberapa titik di wilayah jaksel, dan berakhir di ruang pertemuan gedung SMK 57.

Rapat Paripurna PRIMKOPTI Jaksel

Dihadiri oleh perwakilan anggota Kopti se Jakarta Selatan, sidang paripurna berlangsung dengan cukup lancar dan menghasilkan rekomendasi dan susunan kepengurusan baru untuk masa jabatan mendatang.

Kepala unit pelayanan PRIMKOPTI Jaksel

Unit-unit pelayanan PRIMKOPTI Jakarta Selatan bekerja untuk mengembangkan kapasitas kelembagaan demi menyambut berbagai tantangan kedepan serta meningkatkan pelayanan terhadap anggota

Selasa, 12 April 2011

Saatnya Perajin Tahu dan Tempe Manfaatkan Teknologi agar Tetap Berkibar

(KOMPAS/Cetak/Rabu 13-4-'11) Jika ingat tempe tahu, terbayang informasi miring tentang cara pembuatannya yang harus diinjak-injak dulu dengan kaki telanjang.

”Mana mungkin bersih ya tempe tahunya,” kata Wini (24), karyawan swasta, Selasa (12/4).

Padahal, sejak beberapa tahun silam pembuatan tahu tempe sudah mengadopsi teknologi, seperti penggilingan kedelai dengan alat giling.

”Namun, peralatan yang digunakan perajin belum benar-benar sesuai dengan standar peralatan produksi makanan. Oleh karena itu, diperkenalkanlah serangkaian peralatan sederhana tetapi tepat guna kepada para perajin, yaitu penggunaan peralatan berbahan baku stainless steel dan berbahan bakar gas,” kata Irfansyah, Ketua Program Tahu dan Tempe Mercy Corps, kemarin.

Teknologi tepat guna yang ditawarkan Mercy Corps, antara lain, drum stainless steel untuk merebus kedelai dalam pembuatan tempe. Drum ini menggantikan drum bekas yang biasanya untuk mewadahi oli. Ada juga tahang dari stainless steel yang menggantikan tahang dari kayu jati yang diperlukan dalam pembuatan tahu. Ada juga ketel uap, alat giling, dan beberapa peralatan lain. Bahan bakar yang digunakan adalah gas yang menggantikan kayu bakar.

”Drum bekas oli jelas tidak memenuhi standar kesehatan. Kalau tahang dari kayu, permukaannya tidak mulus sehingga sisa-sisa kedelai masih menempel dan mempercepat pembusukan. Produk tahu jadi tidak tahan lama. Jika pakai tahang stainless steel, tahu bisa tahan sampai 2-3 hari,” kata Irfan.

Irfan mengakui akan ada pembengkakan biaya. Rata-rata dalam satu hari seorang perajin yang mengolah sekitar 50 kilogram kedelai membutuhkan 1 kuintal kayu bakar seharga Rp 12.000. Jika memakai gas, diperlukan satu seperempat tabung gas ukuran 3 kilogram seharga sekitar Rp 18.000.

Namun, konsistensi penggunaan peralatan ramah lingkungan membuat pabrik akan lebih efisien, bersih, asap berkurang, dan produksi tahu tempe bakal terdongkrak. Otomatis, kata Irfan, yang diamini Sutaryo, Ketua Bidang Usaha Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti) Jakarta Selatan, laba pun bakal bertambah.

Di Indonesia, tahu tempe telah mempunyai nilai rantai ekonomi yang menjadi kunci bagi perekonomian lokal. Produksi tempe tahu menjadi sumber pendapatan bagi 85.000 usaha yang melibatkan 285.000 pekerja dan menghasilkan pendapatan Rp 700 miliar per tahun.

Berbekal perhitungan tersebut, Selasa pagi kemarin, perajin tahu tempe yang menjadi anggota Primkopti Jakarta Selatan diundang pada peluncuran peralatan pembuatan tahu tempe berteknologi tepat guna dan ramah lingkungan di Jalan Kalibata Tengah, Jakarta Selatan. Sembari diperkenalkan dengan peralatan baru, perajin mengikuti seminar bertajuk ”Menjawab Tantangan Perbaikan Produksi Tahu Tempe Melalui Peran Serta Primkopti dan Aplikasi Pola Pelayanan Satu Atap”. Acara ini hasil kerja sama antara Primkopti Jakarta Selatan dan Mercy Corps.

Direktur Mercy Corps Indonesia Sean Granville Ross mengatakan, kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi perajin untuk meningkatkan produksi.

”Ini juga menjadi titik awal untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi konsumen terhadap makanan sehat dan higienis,” katanya. (NELI TRIANA)

Kamis, 07 April 2011

Dipasarkan, Tahu-Tempe Ramah Lingkungan

KOMPAS.com — Tahu dan tempe berlabel higienis dan ramah lingkungan segera beredar di pasaran Jakarta dan sekitarnya. Adalah Primkopti, dibantu Mercy Corps Indonesia, yang akan memperkenalkan tahu dan tempe tersebut pada 12 April mendatang.

Bersamaan dengan itu, dilaksanakan juga kegiatan diskusi terbuka bertema "Peran Serta Primkopti dan Aplikasi Pola Pelayanan Satu Atap sebagai Strategi Menjawab Tantangan Perbaikan Produksi Tahu Tempe". Saat ini diperkirakan industri rumahan tahu dan tempe menghasilkan pendapatan Rp 700 miliar per tahun atau 78 juta dollar AS per tahun.

Fitria Rinawati, koordinator komunikasi Mercy Corps Indonesia, menjelaskan, produk tahu dan tempe bermerek saat ini sudah ada di pasaran. Namun, belum bisa dipastikan apakah tahu dan tempe itu sudah diproses secara higienis dan ramah lingkungan.

"Kami berencana akan memperkenalkan kepada masyarakat tahu dan tempe yang diproduksinya higienis dan ramah lingkungan pada 12 April mendatang di kantor Primkopti di Jakarta Selatan," kata Fitria yang dihubungi per telepon, Kamis (7/4/2011) petang.

Ia menjelaskan, yang dimaksud higienis adalah tahu dan tempe tersebut pembuatanya melalui proses yang higienis, sesuai dengan kaidah kesehatan dan keamanan untuk konsumen, mulai dari pemilihan bahan baku, kacang kedelai, sampai proses pembukusan tahu dan tempenya. Sebagai contoh, dipastikan perajin tempe dan tahu yang produknya diberi merek dan direkomendasi Primkopti tersebut sudah tidak menggunakan lagi drum-drum bekas oli untuk merebus kedelainya. Selain tidak higienis, penggunaan drum bekas oli itu juga cepat rusak karena mudah berkarat.

Sedangkan yang dimaksud ramah lingkungan, lanjutnya, antara lain perajinnya tidak lagi menggunakan kayu sebagai bahan bakar dalam merebus kacang kedelainya, melainkan menggunakan gas. "Berdasarkan hitung-hitungannya, terbukti juga menggunakan gas, biaya produksinya menjadi lebih murah dibanding kalau perajin itu mengunakan kayu atau batang pohon," kata Fitria.

Ramah lingkungan lainnya, limbah bekas proses pembuatan tahu tidak lagi dibuang ke saluran air atau ditumpuk begitu sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan atau udara. Limbah bekas proses pembuatan tahu itu diubah menjadi biogas, yang digunakan kembali untuk proses perebusan atau pemasakan kedelai.

"Mungkin karena kapasitas produksinya masih kecil, limbahnya tidak cukup menghasilkan biogas yang dapat digunakan kegiatan usahanya. Tetapi paling tidak, biogas itu dapat digunakan untuk keperluan memasak sehari-hari keluarga perajin tersebut," jelas Fitria.

Adapun Mercy Corps Indonesia melakukan intervensi pada masalah tahu dan tempe karena melihat hampir seluruh perajin tahu dan tempe, khususnya di Jakarta, belum higienis dalam memproduksi pangan yang dikonsumsi secara luas di Indonesia. Tahu dan tempe pun mengandung tinggi nutrisi dan protein, harga murah, dan enak rasanya.

"Pada saat yang sama, tahu dan tempe telah menjadi rantai ekonomis yang menjadi kunci bagi perekonomian lokal, sebagai sumber pengahasilan dari 85.000 perajin dengan 285.000 pekerja (di mana 40-50 persennya adalah perempuan) dan menghasilkan pendapatan sekitar Rp 700 miliar per tahun atau 78 juta dollar AS per tahun," tutur Fitria.

Mercy Corps adalah organisasi yang memfokuskan membantu di tempat-tempat sulit di dunia dengan meringankan penderitaan, kemiskinan, dan tekanan dengan mengubah krisis menjadi kesempatan membangun masyarakat yang aman, produktif, dan adil. Kantor pusatnya ada di Portland, Amerika Serikat, dan Edinburgh, Inggris, dengan kantor perwakilan ada di 40 negara, termasuk di Indonesia, tepatnya di Pancoran, Jakarta Selatan.
Source:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More