Sabtu, 26 Maret 2011

Sempat Hilang Di Pasaran, Harga Tahu Akhirnya Naik

Jakarta Produk tahu sempat menghilang dari pasaran khususnya di Jabodetabek karena produsen berdemo meminta kenaikan harga. Namun produsen pun akhirnya berdamai dan memilih untuk menaikkan harga tahu, sementara tempe disiasati dengan ukuran yang lebih kecil.

Ketua II Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Sutaryo mengatakan para pengrajin tahu tempe akhirnya menaikan harga karena sudah tak mampu menahan biaya produksi karena kenaikan harga kedelai.
Harga kedelai ditingkat pengrajin, menurut Sutaryo sudah naik dari Rp 4.800-5.000, menjadi Rp 6.500-6.800 per Kg. Sehingga ia memastikan harga tahu khususnya sudah naik di awal pekan ini.

Memang kami libur tak berproduksi pada Kamis-Jumat lalu, karena konsumen susah menerima rencana kenaikan. Jadi kami semacam berunjuk rasa lah, katanya kepada portalnewsFinance, Senin (7/2/2011).

Ia mengatakan penolakan kenaikan harga sebenarnya lebih banyak dilakukan oleh pedagang sementara konsumen relatif menerima.

Konsumen menerima, efek konsumen nggak terlalu, tapi produsen ke pedagang tarik menarik, kata Sutaryo yang juga Ketua Bidang Usaha Kopti Jakarta Selatan ini.
Saat ini harga tahu besar (tahu china) naik Rp 200 dari Rp 1.400 menjadi Rp 1.600 per potong. Harga tahu Bandung naik dari Rp 300 menjadi Rp 350 per potong, sementara tahun papan naik Rp 2000 dari Rp 18.000 menjadi Rp 20.000 untuk wilayah Jabodetabek.
Memang kenaikannya kecil, tapi kalau dalam jumlah besar bagi produsen itu sangat berarti, ujarnya.

Ia menjelaskan pasca demo pekan lalu, pasokan tahu khususnya di Jabodetabek sudah normal sejak Sabtu lalu. Menurutnya, produsen atau pengrajin tak akan mengulangi hal tersebut asalkan ada kesadaran dari para pedagang maupun konsumen.

Khusus untuk produk tempe, saat ini tak mengalami kenaikkan karena pengrajin mensiasatinya dengan mengurangi ukuran. Sementara harga tahu terpaksa dinaikan karena para perajin sudah tak mungkin melakukan pengurangan ukuran cetakan karena jika dilakukan harus membuat cetakan baru. Kalau tempe bisa disiasati oleh perajin, juga pendistribusiannya bisa dilakukan langsung, ucapnya.

Sampai saat ini kebutuhan tahu tempe khususnya di DKI Jakarta rata-rata per bulan mencapai 15.000 ton. Sementara kebutuhan kedelai di Jakarta saat ini rata-rata 10.000 ton per bulan. Total kebutuhan kedelai secara nasional mencapai 2,4 juta ton per tahun, di mana sebanyak 80% dipakai untuk tempe dan tahu.

Dari total kebutuhan 2,4 juta ton, sebanyak 600.000 ton dipasok dari dalam negeri sementara kedelai impor mencapai 1,8 juta ton.(hen/qom)

0 comments:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More